Bila waktu itu telah tiba (Sebuah puisi untuk para sahabat, kawan seperjuangan)
masih teringat juga dikala janji untuk sebuah persahabatan mulai terucap di hati kita masing-masing...
Sepertinya semua tidak akan mengubah dunia kita.... hanya kerikil-kerikil itu..huhh... akan ku sapu dengan hembusan angin persahabatan kita....
Semoga Allah selalu menenangkan hati kita sahabat..... :)
Narasi Hidup dalam Satu Hari (Bag. 1)
Sebuah hari ya dimulai dengan kemalasan... Bangun-bangun sudah inget kuliah lagi. yah, ini resiko anak kuliahan. Tetapi, pagi ini cukup berbeda. Yang jelas bukan karena bangun kepagian... Tetapi tidak jadi sahur karena bangunnya subuh...hehe. :P
Baiklah... Mari kita mulai!!!
hem.. mungkin jaman sekarang sudah edan. Itulah kata-kata yang sering terdengar tatkala ada kejadian yang aneh di sekitar kita. Mungkin itu juga yang kata-kata yang bisa diungkapkan untuk kejadian satu ini. Dimiuli dengan say membuka facebook. Yah, sekedar iseng-iseng berbuah silaturahmi hehehe.. :D. Asyik membaca status orang-orang yang mulai menggila, mengeluh, bahka mencaci di facebook tiba-tiba malah baca status serem, Mbak Kunti. Beneran ini, Mbak Kunti.
"Saya itu gx ada bedanya sama mbak kunti. cuma saya masih hdup sedangkan mbak kunti sudah mati. tapi, ya sama2 disakiti sama lelaki. kalau saya mati nanti, saya juga akan seperti mbak kunti.. saya akan melakukan pembalasan untuk kalian yang udah perngah nyakitin aku."
Langsung berdiri bulu kuduk baca tuh status. Dalam hati, "Gila nie orang." Singkat cerita, saya bertemu dengan dia yang menulis status aneh itu.
Melihat sejenak kehidupan TKI di Hongkong
Kini semua terjawab, saat saya diajak teman saya ke Hongkong 21 April 2009, kehidupan ekonomi yang serba kekurangan, broken home, dan harapanlah menjadi penyebabnya.
Perbedaan yang mencolok sekali apabila melihat Hongkong dan Indonesia. Mulai dari sarana transportasi, geografis, dan tingkat kedisiplinan warganya.
Pertama yang akan kita lihat bila sampai di Bandara Internasional Hongkong yaitu kebersihan dan keteraturan dalam pengelolaan fasilitas bandara. Pegawai yang bekerja di bagian administrasi bandara tersebut terlihat sangat disiplin. Mereka dengan senang hati mengantarkan penumpang menuju ke tempat administrasi sehingga tidak akan terjadi keributan karena berebut untuk saling mendahului. Pemandangan ini akan terlihat sangat berbeda sekali dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Setelah keluar dari bandara kita bisa memilih transportasi untuk ke tempat yang kita tuju. Hongkong memiliki alat transportasi dalam kota seperti, kereta api, tram, bus, taksi dan feri. ternyata semua transportasi ini hampir bisa dibayar dengan sebuah kartu yang disebut Octopus Card.
Pemandangan tebing-tebing batu akan kita lihat bila menggunakan bus. tebing-tebing batu ini dilapisi semen untuk menjaga agar batu-batu tersebut tidak longsor. Di tengah jalan, kita tidak akan melihat polisi melainkan kita akan melihat hidden camera bila mata kita cukup jeli. Jalan yang lengang dan sepi. Hanya satu dua bus yang terlihat, tentu berbeda sekali dengan pemandangan di kota Jakarta yang padat kendaraan. Disini, bus tetap akan beroperasi walaupun tidak ada penumpang karena pegawai bus sudah digaji oleh pemerintah. Kita juga tidak perlu menunggu berlama-lama dan tidak usah takut ketinggalan karena bus di negara ini pasti akan berhenti setiap 10 menit sekali di halte.
Setelah sampai di tempat peristirahatan, kami mencoba melihat kehidupan di Hongkong. Saat weekend dan hari libur lainnya terlihat banyak sekali TKI, terutama yang berjenis kelamin wanita, yang sedang melepas penat di taman, depan hotel tempat kami tinggal. Ramai, hiruk pikuk, inilah pemandangan yang lazim ditemukan di antara para imigran Indonesia. Walaupun ada yang kelihatannya seperti orang Hongkong karena tampilan para TKI ini bisa dibilang modis, tapi suatu ketidaksengajaan ketika mendengar mereka bicara ternyata mereka berbicara bahasa Jawa. Wah, ini cukup menakjubkan karena bahasa Jawa kedengarannya agak mirip dengan bahasa orang Hongkong sehingga seperti tidak ada perbedaan dialek antara masyarakat Hongkong dan Jawa.
Agak mengejutkan juga melihat banyak orang yang berjalan kaki dan minimnya kendaraan disana. Pedestrian punya rambu lalu lintas sendiri sama seperti kendaraan. Walaupun ada lampu merah dan hijau untuk pedestrian, tetap ada suara 'tuk tuk tuk tuk ' yang berkepanjangan. Ternyata suara ini sangat berguna bagi tunanetra untuk menandai apakah mereka boleh menyeberang atau tidak.
Sebuah fakta lain dari sisi dari Hongkong. Tentang tenaga kerja Indonesia, khususnya wanita, sangat memprihatinkan. Mungkin problem yang dialami bermacam-macam. Dari bertemu majikan yang baik hati sampai pada majikan yang suka menyiksa. Harapan menjadi makmur setelah menjadi TKI pun tidak tercapai. Justru perlakuan yang tidak senonoh yang menjadi keluhan pada pemerintah saat kontrak mereka sudah habis ataupun saat mereka benar-benar tersiksa oleh majikannya.
Disini kita akan berbicara tentang TKI khususnya TKI yang menjadi PRT (pembantu rumah tangga) di Hongkong. Untuk sebagian PRT menjadi TKI itu biasa saja karena mereka bertemu dengan majikan yang baik dan memperhatikan kebebasan mereka, tapi untuk PRT yang bernasib buruk tentu hal ini akan terasa bagai di neraka. Di suatu pagi, hari minggu, banyak sekali TKI wanita yang kelihatannya sedang duduk-duduk -mungkin tepatnya tamasya di taman- nonton TV channel Indonesia, makan makanan Indonesia, dan berkumpul bersama-sama orang Indonesia walaupun mereka tidak saling kenal. Ini hal yang lumrah karena manusia cenderung untuk berkumpul dengan orang-orang yang dirasa satu nasib. Tapi, ada satu pemandangan yang mengejutkan. Kebanyakan wanita yang ada di taman itu ternyata lesbi. Mereka tidak malu untuk mempertontonkan hal yang dianggap tabu, seperti berpelukan dan berciuman di tempat umum. Sungguh hal yang menyedihkan. Para imigran yang tadinya pergi dengan moral yang baik menjadi seperti kaum nabi Luth. Sangat terlihat sekali bahwa mereka mengalami kesepian ketika berada di negara orang dan jauh dari keluarga.
Tetapi, banyak juga orang-orang yang tetap berpegang pada iman. Mereka tetap mengikuti organisasi keagamaan serta mengadakan pengajian akbar setiap satu bulan sekali. Salah satu hal yang menjadi keluhan dari para imigran ini yaitu ketidakpedulian pemerintah terhadap mereka. Sehingga terkadang mereka lebih memilih diam daripada berbicara tapi tidak diacuhkan. Dimana suara dan aplikasi undang-undang yang mengatur tentang penempatan dan penghidupan yang layak bagi para TKI? Ini benar-benar patut dipertanyakan.
Sebenarnya menjadi TKI bukanlah hal yang buruk, asalkan mempunyai kompetensi yang bagus pada bidang yang benar-benar dibutuhkan di negara yang dituju. Selain itu, hendaknya para TKI ini lebih diperhatikan dan diberikan perhatian sehingga mereka masih bisa merasakan kebahagiaan walaupun jauh dari tanah air sendiri.
Karena Devisa negara dapat meningkat berkat adanya para TKI sehingga, pantaslah bila para TKI itu disebut pahlawan devisa.
-Musim semi di Hongkong_konser sulis-
Efusi Pleura
Ini berawal dari seorang teman saya. Saat saya ke rumahnya dia sedang meringkuk kesakitan menahan perutnya. cukup terhenyak hati saya ketika melihat sahabat saya ini....
Walaupun dia sudah tiada, saya harap bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman sehingga bisa mengetahui apa sebenarnya penyakit yang bernama efusi pleura itu dan bisa mencegahnya bila terdapat tanda-tanda.
Nita, teman saya, mengeluh sakit perut dan selalu muntah-muntah tanpa sebab. Saat ditanya, dia berkata mungkin karena maag dan kecapekan. saya juga tidak menyangka akan seperti ini jadinya.
Saat itu dia mulai demam tinggi, menggigil, dan sakit perut. Tapi, yang saya salut dari dia, dia cukup berani dan selalu semangat walaupun dia sedang sakit. Setelah itu dia saya antar ke dokter. Diketahui bahwa ia menderita types akut...
Tapi, setelah 3 hari types juga tak kunjung sembuh, malah keadaannya semakin mengkhawatirkan. Hari keempat setelah pemeriksaan, dia ditransfer ke rumah sakit tempat kakaknya bekerja karena memandang biaya yang dikeluarkan sangat besar bila ia berada di rumah sakit lain.
Tiba di rumah sakit tempat kakaknya bekerja, ia langsung dibawa ke dokter spesialis paru-paru karena kakaknya punya feeling yang kuat kalau dia menderita paru-paru. Ternyata benar. Keesokan harinya mulai diadakan penyedotan cairan dari bawah tulang iga.
Penyedotan cairan itu sakitnya tiada terkira..... Setelah proses penyedotan, ia terbaring lemah tak berdaya.... Betapa kasihannya sahabatku tersebut. Setiap hari ia harus berjemur di bawah teriknya matahari demi kesembuhan. Diselingi dengan obat yang tiap hari diminum selama setengah tahun....
Perjuangan sang ibu dan Air mata anak-anak
Dalam diam, kurenungkan kembali saat-saat seperti dulu.
Di sudut bangku aku terdiam sesenggukkan. Bentakkan keras ibuku mampu mematahkan kerasnya hatiku. Saat itu aku baru berusia 8 tahun. Dimana pada usia itu, anak-anak masih berada dalam kungkungan kasih sayang orang tua dan masih bermain bebas, tertawa ria dengan teman-teman sebayanya. Tapi, justru berbeda dengan masa kecilku. Mungkin ini merupakan refleksi dari kehidupan di desa terpencil, dimana anak-anak kecil harus membantu orang tuanya mencari nafkah.
Bersama dengan ketiga kakak perempuanku dan dikomandoi oleh ibuku, kami mengangkat padi hasil panen kami hari ini. Beratnya satu karung padi 50 kg tidak mampu mengalahkan semangat ibu dan kakak-kakakku. "Hemm... sakit benar rasanya punggung ini",ujar ibuku yang memang sudah mulai renta walaupun baru memasuki umur 30 tahun-an.
Setiap harinya aku mendengar keluhan panjang dari ibuku. aku mengerti akan sulitnya hidup yang dialami kedua orang tuaku. Hidup yang jauh dari cukup, dengan menyekolahkan anak-anak ke tempat yang jauh.
Bukan hal yang mudah bagi seorang ibu yang sangat mengasihi anak-anaknya, melepas begitu saja kepergian orang yang disayangi.....
Sekarang keadaan mulai berbeda. anak-anak ibuku mulai pergi dari rumah karena harus membina rumah tangga sendiri. Tinggalllah kini ibuku yang sudah tu renta bersama ayah dan adikku yang terkecil. Kadang bila teringat beliau...air mata ini jatuh seketika.
Sungguh berat perjuangan seorang ibu.... Inginku cepat selesai dari menuntut ilmu di perguruan tinggi ini. Ingin kubawa orang tuaku menikmati masa tua mereka dengan ketenangna dan kebahagiaan. Ingin kutunjukkan kepada mereka hal-hal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Aku ingin......aku ingin....aku ingin mengabulkan apapun yang mereka inginkan. Aku ingin mereka merasakan hal yang sangat menggembirakan dalam kehidupan mereka....
Bantulah aku ya Rabb......
Dapet C+, why not......?
Pukul 16:00, Rian, salah seorang temanku yang turut mengambil mata kuliah pilihan denganku. Dia ingin menemuiku dengan bermaksud menanyakan mengapa aku tidak mengikuti UAS gender tadi siang. Dengan sedikit terkejut, aku mendengarnya dari salah seorang temanku yang kebetulan berada di serambi asrama. Tapi, anehnya aku tidak merasa salah.... damapi ada salah seorang temanku mengusulkan bahwa aku harus menghubungi dosenku yang mengajar mata kuliah itu. Dengan separuh bercanda aku mengambil hape yang disodorkan kepadaku...wkwkwkkw
Sungguh aneh, aku menelpon dosenku dan ia mengatakan bahwa aku tidak bisa ikut pengganti ujian pengganti UAS. Dengan bergegas aku ke kampus, dan menemui dosenku. Ternyata semuanya tersenyum melihatku masuk ke ruang dosen dengan terengah-engah.... "gimana kok bisa kayak gitu?"tanya dosenku. Aku jawab aja,"lupa, pak," mau gimana lagi... HAh..... cukup dengan nafas panjang mengingat kebodohanku..... Alhasil cuma bisa memaksimalkan nilai tugas... Oh, My god..... tiap bertemu dengan dosen itu, selalu saja aku diledekin.... Wah, kamu ini harusnya dapat nilai A malah dapat C hahahha..... yah... ini cukup menjadi pelajaran bagi keteledoranku.... jangan-jangan lagi dah....!
Buat teman yang lain.... Jangan sampai kejadian kayak gini yaa.....!
Agresi VS Stres dan Kepribadian
Agresi merupakan permasalahan yang akan terus menerus ada selama manusia masih menghuni dunia ini. Kejadian-kejadian yang menyakitkan dan membuat hati kita iba, tak pelak pula disumbangkan oleh agresi yang paling sering kita sebut dengan kekerasan.
Agresi merupakan tindakan melukai dan menyakiti orang dengan sengaja, baik itu secara verbal maupun fisik. Menurut Berkowtitz (2001), agresi merupakan tindakan yang melukai dengan sengaja oleh orang atau institusi terhadap orang atau institusi lain yang sejatinya disengaja (Feldman, 2008 dalam Sarwono, Meinarno, dkk., 2009). Sebagai contoh yaitu tindakan seorang anak yang menyerang temannya sampai mengalami patah tulang lengan karena anak tersebut menonton acara-acara TV yang berbau agresi, seperti smackdown dan film silat-silatan.
Sebuah penelitian tentang agresi inipun mulai bermunculan, guna mengantisipasi ataupun sekadar ingin mengetahui bagaimana agresi dapat terjadi. Saya akan mengungkapkan tentang sebuah makalah yang berisi ulasan tentang pengaruh tingkat introvertivitas dan frekuensi stres terhadap frekuensi agresi. Penelitian ini dilakukan di Universitas Paramadina dengan mengambil sampel sebanyak 15 orang mahasiswa. Permasalahan ini pantas menjadi sorotan dengan beberapa pertimbangan yang telah dianalisis sebelumnya yaitu kebanyakan mahasiswa sering melakukan tindakan agresi ketika stres, baik itu disengaja ataupun tidak disengaja dan sebagian mahasiswa Paramadina terlihat sering mencela dan memukul temannya ketika sedang bercanda. Dari hal ini dapat diidentifikasi bahwa permasalahan yang diangkat adalah mengenai tingkat stres dan perbedaan kepribadian pada tiap individu.
Analisis regresi untuk mencari perbedaan sumbangan pada dua faktor ini pun dilakukan. Hasilnya sangat signifikan yang menyatakan bahwa tingkat introvertivitas dan tingkat stres sangat mempengaruhi banyaknya tindakan agresi yang dilakukan seseorang. Dari penghitungan sumbangan relatif dan sumbangan efektif pada perilaku agresi ini didapatkan bahwa stres memberikan sumbangan lebih besar pada banyaknya perilaku agresi dibandingkan introvertivitas seseorang.
Adapun sumbangan dari factor lain-lain yang berpengaruh pada frekuensi agresi ini sebesar 23,85%. Sisanya adalah frekuensi stres dan tingkat introvertivitas yang memberikan sumbangan pada perilaku agresi sebesar 76,15%. Ini berarti sumbangan dari frekuensi stres dan tingkat introvertivitas sangat signifikan karena lebih dari 50% dari sumbangan keseluruhan. Menunjukkan bahwa factor lain hanya sedikit yang berpengaruh dalam penelitian ini.
Dari hasil penghitungan mean juga diketahui bahwa mean yang terbesar dalam penelitian ini adalah mean dari frekuensi stres = 15 sedangkan mean dari tingkat introvertivitas = 11.
Perlu adanya aplikasi dari hasil penelitian ini ke kehidupan sehari-hari. Tentunya dengan melihat stres dan tingkat introvertivitas. Kita juga bisa mengambil langkah sebagai antisipasi terhadap terjadinya perilaku agresi ini. Sewaktu kita melihat ada siswa SMP sering melakukan tindakan kekerasan, kita dapat juga menyimpulkan bahwa itu merupakan tindakan yang berasal dari kepribadian ia dan ia memiliki banyak permasalahan menekan ia yang membuat ia stres. Tetapi yang perlu mendapat sorotan lebih dalam pada bagaimana cara kita mengubah skema pemikiran siswa tersebut agar tidak melakukan kekerasan lagi. Selain itu, bila diketahui anak tersebut mengalami banyak permasalahan yang menekan dalam hidupnya kiat bisa mengambil langkah untuk membuat ia bisa mengatasi stres dan mempunyai orientasi yang rasional dalam hidupnya. Orang tua, keluarga, dan guru memiliki tempat yang sangat penting dalam mengambil langkah untuk mengatasi perilaku agresi ini.
Demikian pula diharuskan adanya analisa terhadap peristiwa kekerasan sehingga bisa diambil langkah penanggulangan yang tepat dalam mengatasinya. Penggambaran kekerasan ini bisa dilihat dari cara bicara yang menyiratkan kata-kata kasar dan menyakiti orang lain serta perilaku-perilaku yang mengindikasikan kekerasan seperti memukul, meninju, dan lain-lain.
Untuk membangun generasi yang damai seharusnyalah kita peduli terhadap hal-hal kecil yang memicu timbulnya kekerasan dalam kehidupan kita untuk mewujudkan masyarakat yang aman, adil, dan damai.
Dari makalah Pengaruh Tingkat Introvertivitas dan Frekuensi stres dalam Satu Bulan Terhadap Frekuensi Agresi dalam Satu Bulan pada Mahasiswa Universitas Paramadina